SIKAP IKHLAS MAGNET REJEKI
Oleh : Andrie Wongso
Alkisah, ada seorang raja yang bijaksana. Rakyatnya hidup makmur sejahtera. Sang Raja punya dua orang putra yang sama-sama hebatnya. Karena itu, Sang Raja kebingungan, mana putranya yang akan diangkat jadi putra mahkota menggantikan dirinya.
Raja berharap, saat dirinya digantikan, rakyatnya tetap makmur sentosa. Maka, suatu hari, ia pun bertanya pada kedua putranya, “Wahai Putraku, aku ingin bertanya. Apa yang ingin kalian perbuat pada kerajaan ini jika menggantikanku?”
Putra pertama menjawab: “Wahai Ayah, kutahu kerajaan kita sudah sangat sejahtera. Karena itu, jika Ayah memberikan kepercayaan kepadaku, aku akan membuatnya makin kaya dan sejahtera. Kerajaan ini akan makin aku besarkan, bahkan hingga ke kerajaan tetangga.”
Sementara itu, putra keduanya berkata, “Ayah, aku tahu kerajaan ini sudah sejahtera. Karena itu, jika Ayah memercayakan kerajaan ini padaku, aku akan membuat rakyat makin sejahtera dengan menjaga tata nilai kerajaan ini agar mereka makin peduli satu sama lain. Aku berharap, bukan hanya sejahtera, semua rakyat bisa bahagia karena saling menjaga harmonisasi kehidupan di antara mereka.”
“Putraku. Kalian berdua adalah putra terbaik di kerajaan ini. Jawaban kalian berdua tentang masa depan kerajaan ini juga sama baiknya. Karena itu, aku memutuskan bahwa kalian berdua harus memerintah kerajaan ini bersama-sama. Untuk itu, aku akan membagi dua mahkota ini sebagai simbolisasi bahwa kerajaan ini akan aku bagi dua untuk kalian kembangkan sesuai dengan apa yang sudah kalian sampaikan tadi,” sebut Sang Raja sembari mencoba mematahkan mahkota yang dipakainya menjadi dua bagian dengan kapak yang sudah siap diayunkan ke simbol tertinggi kerajaan itu.
“Ayah betul. Kita bagi saja kerajaan ini jadi dua. Aku akan tunjukkan kepada ayah bahwa aku pasti bisa jadi raja yang lebih baik,” sambut putra pertama.
Namun, sebelum kapak terlanjur diayunkan, putra kedua segera berlari ke arah ayahnya dan mencegah kapak berayun. “Ayah, daripada simbol kerajaan tertinggi ini dibagi dua, saya rela tidak menjadi raja. Saya hanya ingin rakyat sejahtera. Saya khawatir, jika kerajaan ini dipecah jadi dua seperti yang hendak Ayah lakukan pada mahkota ini, yang ada bukannya sejahtera, tapi akan hancur berantakan karena bisa saja akan muncul perselisihan. Saya rela kerajaan ini diserahkan sepenuhnya pada Kakak, asal kerajaan ini tetap sejahtera.”




