Tampilkan postingan dengan label MOTIVASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MOTIVASI. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Desember 2014

SIKAP IKHLAS MAGNET REJEKI



Oleh : Andrie Wongso


Alkisah, ada seorang raja yang bijaksana. Rakyatnya hidup makmur sejahtera. Sang Raja punya dua orang putra yang sama-sama hebatnya. Karena itu, Sang Raja kebingungan, mana putranya yang akan diangkat jadi putra mahkota menggantikan dirinya.


Raja berharap, saat dirinya digantikan, rakyatnya tetap makmur sentosa. Maka, suatu hari, ia pun bertanya pada kedua putranya, “Wahai Putraku, aku ingin bertanya. Apa yang ingin kalian perbuat pada kerajaan ini jika menggantikanku?”



Putra pertama menjawab: “Wahai Ayah, kutahu kerajaan kita sudah sangat sejahtera. Karena itu, jika Ayah memberikan kepercayaan kepadaku, aku akan membuatnya makin kaya dan sejahtera. Kerajaan ini akan makin aku besarkan, bahkan hingga ke kerajaan tetangga.”



Sementara itu, putra keduanya berkata, “Ayah, aku tahu kerajaan ini sudah sejahtera. Karena itu, jika Ayah memercayakan kerajaan ini padaku, aku akan membuat rakyat makin sejahtera dengan menjaga tata nilai kerajaan ini agar mereka makin peduli satu sama lain. Aku berharap, bukan hanya sejahtera, semua rakyat bisa bahagia karena saling menjaga harmonisasi kehidupan di antara mereka.”



“Putraku. Kalian berdua adalah putra terbaik di kerajaan ini. Jawaban kalian berdua tentang masa depan kerajaan ini juga sama baiknya. Karena itu, aku memutuskan bahwa kalian berdua harus memerintah kerajaan ini bersama-sama. Untuk itu, aku akan membagi dua mahkota ini sebagai simbolisasi bahwa kerajaan ini akan aku bagi dua untuk kalian kembangkan sesuai dengan apa yang sudah kalian sampaikan tadi,” sebut Sang Raja sembari mencoba mematahkan mahkota yang dipakainya menjadi dua bagian dengan kapak yang sudah siap diayunkan ke simbol tertinggi kerajaan itu.



“Ayah betul. Kita bagi saja kerajaan ini jadi dua. Aku akan tunjukkan kepada ayah bahwa aku pasti bisa jadi raja yang lebih baik,” sambut putra pertama.



Namun, sebelum kapak terlanjur diayunkan, putra kedua segera berlari ke arah ayahnya dan mencegah kapak berayun. “Ayah, daripada simbol kerajaan tertinggi ini dibagi dua, saya rela tidak menjadi raja. Saya hanya ingin rakyat sejahtera. Saya khawatir, jika kerajaan ini dipecah jadi dua seperti yang hendak Ayah lakukan pada mahkota ini, yang ada bukannya sejahtera, tapi akan hancur berantakan karena bisa saja akan muncul perselisihan. Saya rela kerajaan ini diserahkan sepenuhnya pada Kakak, asal kerajaan ini tetap sejahtera.”


Sabtu, 18 Oktober 2014

MOTIVASI

PENGUSAHA SUKSES PENGIDAP DISLEKSIA

CERITA INSPIRATIF ANDRIE WONGSO




Sejak usia balita, Ben Way (Benjamin Peter Bernard Way) sudah menunjukkan gejala menderita diseleksia. Disleksia adalah sebuah kondisi ketidakmampuan belajar pada seseorang yang disebabkan oleh kesulitan pada orang tersebut dalam melakukan membaca dan menulis. Pada kasus Ben, kondisi ini lebih diperparah dengan perceraian orangtuanya. Masa-masa itu menjadi waktu yang sangat berat bagi Ben yang masih berusia lima tahun. Karena itulah, ia menjadi anak yang hiperaktif, emosional, dan seringkali berteiak-teriak, lari kesana-kemari, dan merusak segala hal yang ada disekitarnya.

Televisi, pemanggang roti, lemari menjadi sasarannya. Itupula yang membuatnya tidak masuk playgroup karena disekolah Ben akan merusak kursi, meja, dan perlengkapan sekolah lainnya yang membuat pengelola sekolah tidak mau mengambil resiko. 

Sifatnya yang seperti itu semakin mempersulit keadaan ibunya yang saat itu masih harus mengurusi bayinya, adik Ben yang bernama Hemione. Sang Ibu menjadi orangtua tunggal yang bekerja sebagai guru. Profesi ibunya inilah yang memberikan kesempatan bagi Ben untuk mendapat pendidikan gratis disekolah tempat ibunya bekerja. 


Selasa, 14 Oktober 2014

MOTIVASI

PEMULUNG DENGAN PRESTASI MENDUNIA


CERITA INSPIRATIF DARI

 ANDRIE WONGSO


Ni Wayan Mertiayani atau yang biasa dipanggil Ni Wayan atau Sepi merupakan putri sulung almarhum I Nengah Sangkrib dan Ni Nengah Sirem. Sejak ayahnya meninggal, Mertiayani tinggal bersama ibunya dan adiknya, Ni Made Jati. Sejak itu pula, tiga wanita ini berjuang untuk melanjutkan hidupnya dari hari ke hari. 

Sepeninggal sang ayah, mereka tinggal digubuk berdinding bilik bambu dengan satu kamar tidur. Ibunya sudah bertahun-tahun menderita ginjal dan harus bekerja serabutan. Untuk menopang kehidupan, setiap sorenya hingga gelap menyergap, gadis yang sekarang duduk di bangku SMA itu berjualan permen, kue jajanan, dan makanan kecil lainnya di Pantai Amed, salah satu pusat isata dibagian timur Karangasem, Bali. 

Jika dagangannya laku, dia bisa memperoleh pendapatan hingga Rp 50.000, Tapi lebih sering dia yang rugi karena banyak yang tidak bayar. "Atau kalau tak habis ya saya makan sendiri, jadinya ya rugi," ujar Wayan tersipu. Dia bahkan hampir putus sekolah karena tak punya uang untuk biaya sekolah.

Jika hasil berjualannya tidak mencukupi kebutuhan dasarnya, Wayan memulung diseputaran pantai Bali. Usai pulang sekolah atau berjualan, Wayan tidak merasa malu memunguti sampah-sampah plastik yang bertebaran disepanjang pantai. Bahkan, ejekan teman satu sekolahnya tidak dihiraukan sama sekali. Satu prinsipnya, "Saya tidak mencuri!"

TERINSPIRASI ANNE FRANK

Namun, disela kehidupan keras yang dijalaninya, Wayan biasa meluangkan waktu untuk membaca diperpustakaan milik Marie Johana Fardan, tetangganya. Dari koleksi perpustakaan inilah, Wayan mengenal sosok Anne Frank dari buku catatan harian Anne Frank berjudul The Diary of Anne Frank. Dari buku ini juga muncul sebuah cita-cita dalam diri Wayan, yaitu ingin menjadi wartawan dan penulis. 

Minggu, 28 September 2014

MOTIVASI SIPUT

BERGANTUNG PADA DIRI SENDIRI




Alkisah, dikesenyapan hutan belantara, terdenganr percakapan menarik antara Ibu Siput dengan anaknya. Siput kecil bertanya pada ibunya, "Ibu, mengapa sejak lahir, kita harus membawa cangkang yang begitu keras dan berat ini?"

Sang Ibu menjawab, "Pertanyaan yang bagus anakku, kita ditakdirkan dengan badan yang tidak ada tulang untuk menyangga. Kita berjalan dengan cara merayap. Itu pun tidak cepat. Jadi kita memerlukan cangkang ini untuk melindungi diri dari perubahan cuaca, hujan, terik matahari dan marabahaya lainnya yang setiap saat mengintai kehidupan ini,"

Masih penasaran, siput kecil bertanya lagi, "Tetapi Bu, kakak Ulat itu juga tidak mempunyai tulang, dan merayapnya juga tidak cepat. Mengapa mereka tidak perlu membawa cangkang yang begitu keras dan berat ini?"

Dengan tersenyum sabar, sang Ibu menjawab lagi, "Anakku, kakak Ulat tentu berbeda dengan kita. Dia sebentar lagi akan merubah menjadi kupu-kupu, lalu bisa terbang ke alam bebas dan akan terlindungi oleh langit,"

Tak mau meyerah, si siput kecil bertanya lagi, "Adik Cacing Tanah juga tidak mempunyai tulang, dan tidak merayap dengan cepat. Mereka juga tidak akan berubah menjadi kupu-kupu. Mengapa mereka tidak perlu membawa cangkang yang berat ini?"

Ibu Siput kembali menjawab, "Adik cacing tanah kan punya kemampuan bisa menyusup dan masuk kedalam tanah. Mereka dilindungi dari bahaya oleh tanah dari bumi ini,"

Siput kecil tiba-tiba menagis keras, "Huhuhu.. Ibu, kita sungguh hewan yang kasihan sekali. Langit tidak melindungi kita, tanah dan bumi juga tidak melindungi kita,"

Kali ini dengan tegas sang Ibu menjawab, "Anakku, Tuhan Maha Adil. Itulah alasan mengapa kita mempunyai cangkang yang begitu kuat ini. Kita tidak perlu bergantung pada langit maupun tanah, tapi kita harus bergantung pada diri sendiri. Jadi, mulai saat ini, terimalah keberadaan cangkangmu dengan perasaan gembira, karena itu adalah pelindung sejatimu, yang telah diberikan Sang Pencipta kepada kita."

Netter yang luar biasa.

Setiap makhluk hidup telah dilengkapi dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Apalagi manusia. Selain fisik, manusia juga dilengkapi dengan akal budi dan moralitas yang membedakan dengan makhluk lain dipermukaan bumi ini. Karenanya, setiap manusia bertanggung jawab dengan kehidupannya sendiri, bukan hidup dengan mengandalkan bantuan dari orang lain. 

Mari, belajar dan tumbuh menjadi manusia yang lentur, berdiri kokoh dikaki sediri tetapi juga peduli kepada sesama. Dengan sikap mental kemandirian kita akan berani menatap kedepan dan siap berjuang mengubah nasib serta meraih kesuksesan yang gemilang. 

Penulis : Andrie Wongso

Jumat, 26 September 2014

MOTIVASI

BELAJAR SUKSES DARI LEBAH





Lebah adalah salah satu hewan yang memiliki keunikan tersendiri. banyak hal yang bisa kita pelajari dari seekor lebah yang merupakan hewan yang memiliki banyak manfaat. Lalu apa saja yang bisa kita pelajari dari seekor lebah? 

Cukup berdiri didepan sarang lebah, dan mengamati makhluk pekerja keras itu, maka anda akan mendapatkan pelajaran hebat bagaimana untuk sukses. Percaya atau tidak, tapi itulah yang dikemukakan oleh seorang profesor dari Tamil Tandu Agricultural University, Dr N Ganapathy.

Menurutnya dengan mengadopsi etika bekerja lebah, seorang pekerja bahkan perusahaan, bisa mendapatkan kesuksesan besar. Apa saja pelajaran yang dapat diketik dari cara bekerja lebah?

1. Pembagian Tugas
Lebah memiliki lingkungan sosial yang terstruktur. Masing-masing lebah memiliki peran dan job desk masing-masing, serta menguasai perannya dengan baik. Secara genetik, mereka diprogramkan untuk tidak menyalahi wilayah yang bukan merupakan wewenangnya. Jika seorang pekerja mampu mengetahui perannya dalam perusahaan dengan baik, dan menguasai peran tersebut, maka kinerjanya akan meningkat dan perlahan akan mengantarkan pada kesuksesan. Begitu juga jika perusahaan mampu menerapkan hal ini, maka tak akan ada konflik peran.

Meski memiliki peran yang berbeda-beda, kawanan lebah hanya memiliki satu tujuan yang sama. Begitu juga dengan perusahaan. Pemimpin harus mampu menjabarkan tujuan profesional secara jelas, sehingga karyawan dengan berbagai macam peran melangkah bersama-sama untuk satu tujuan dimasa depan.

MOTIVASI

SEMANGAT LABA-LABA, KEGIGIHAN, KETABAHAN DAN USAHA YANG KONSISTEN




Dikisahkan dari sebuah sudut atap rumah yang sudah tua, tampak seekor laba-laba yang setiap hari bekerja membuat sarangnya dengan giat dan rajin. Suatu hari, hujan turun dengan lebatnya dan angin bertiup sangat kencang. Rumah tua itu bocor disana-sini dan sarang laba-laba pun rusak terkena bocoran air serta hempasan angin. Tembok menjadi basah dan licin. Tampak si laba-laba dengan bersusah-payah berusaha merayap naik. Tapi karena tembok licin, laba-laba pun terjatuh. Ia terus bersusah payah untuk merayap naik, tetapi jatuh dan jatuh lagi. Begitu terus berulang-ulang. Tapi laba-laba itu ternyata tetap berusaha merayap naik dengan kegigihan yang luar biasa. 

Rumah tua itu dihuni oleh 3 orang kakak beradik yang masih muda usianya. Saat kejadian itu berlangsung, kebetulan mereka bertiga sedang menyaksikan tingkah laku si laba-laba. Dan berikut adalah komentar-komentar mereka. 

Si sulung dengan menghela napas berkata : "Nasibku sama dengan laba-laba itu. Meskipun aku telah berusaha dengan susah payah dan terus menerus, tetap saja hasilnya nol. Sia-sia belaka. Memang beginilah nasibku, Meskipun telah berusaha sekuat apapun percuma, Tidak bisa berubah.